Ini Dua Metode Pembelajaran Yang Diterapkan Dikbud Bantaeng Dimasa Pandemi

  • Whatsapp

AKSARA, Bantaeng – Pemerintah Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) Melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) belum memberikan izin untuk membuka kembali sekolah – sekolah yang ada dan memastikan bahwa, kegiatan belajar siswa masih tetap dilaksanakan secara jarak jauh meski berada dalam zona hijau. Hal ini menyusul adanya kekuatiran terkait dengan resiko penyebaran pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terhadap siswa.

Kepala Dikbud Bantaeng, Muhammad Haris saat bersua dengan wartawan Aksaranews.com diruang kerjanya, Kamis (23/07/2020) sore tadi menjelaskan dua metode pembelajaran yang telah diterapkan untuk dilaksanakan seluruh sekolah selama pandemi Covid-19 ini.

Bacaan Lainnya

“Berdasarkan kalender pendidikan Nasional, proses belajar mengajar pada tahun ajaran baru tetap dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2020 itu sudah serentak se-Indonesia, dimana seluruh sekolah di Kabupaten Bantaeng melakukan proses Belajar Dari Rumah (BDR), dengan menggunakan metode Daring (Dalam Jaringan), maupun Luring (Luar Jaringan),” terang Muhamad Haris

Meski pembelajaran dilaksanakan dengan metode daring dan luring, para siswa BDR tetap dengan arahan guru dan tidak dilepas begitu saja. Guru tetap melakukan kontrol dengan pemberikan penugasan kepada siswa didiknya, sebab pembelajaran tersebut memang terstruktur berdasarkan kurikulum nasional.

Lebih lanjut ia jelaskan terkait dengan teknik penugasan yang diberikan oleh guru terhadap siswa-siswinya, dimana proses pembelajaran bisa dilakukan dengan tiga cara, Pertama; Guru mendatangi rumah-rumah siswa untuk memberikan penguatan serta penugasan. Kedua; Orang tua siswa atau wali murid datang ke sekolah untuk mengambil penugasan. Dan ketiga; Siswa yang datang ke sekolah untuk mengambil penugasan.

Baca Juga :   Pemda Bantaeng Pacu Upaya Pemulihan Kondisi Pasca Banjir

“Jika siswa mengambil penugasan di sekolah, maka ada beberapa syarat yang dinas sudah wajibkan yaitu protokol kesehatan harus dipenuhi, pengaturan jarak meja dikelas maksimal dalam satu kelas hanya 10 anak, dan harus ada shift dimana tidak diperkenankan seluruh siswa bertemu dihari serta waktu yang sama, sekolah harus membuat jadwal untuk menghindari kerumunan siswa, dan saat dikelas siswa tidak belajar hanya menerima informasi, arahan tentang penugasan dengan waktu tidak boleh lebih dari satu jam,” jelas Haris

Dituturkannya bahwa, proses pelaksanaan pembelajaran di setiap Daerah itu berbeda-beda, untuk Daerah yang berada dalam zona hijau bisa melaksanakan pembelajaran secara tatap muka di kelas (dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan) tetapi yang berada dalam zona kuning, orange dan merah tidak diperbolehkan melaksanakan belajar tatap muka di sekolah tetapi masih BDR.

Dirinya juga menyarankan, jika pihak sekolah hendak melakukan pembelajaran secara Daring, maka perlu memperhatikan ketersediaan sarana pendukung siswa untuk mengakses internet. Apabila sarana pendukung tersebut dirasa kurang, maka masih bisa menggunakan metode Luring.

Turut ditambahkannya pula, proses BDR ini telah sesuai arahan dan hasil koordinasi dengan Ketua Gugus Tugas (Gustu) Bantaeng, dimana dimasa Covid-19 ini, sangat beresiko tinggi jika memaksakan proses belajar mengajar dilakukan bertatap muka di sekolah.

“Menurut koordinasi dengan Gustu kita masih akan resiko jika membuka sekolah. Dengan asumsi bahwa daerah Bantaeng ini berada di tengah – tengah wilayah perbatasam daerah Jeneponto dan Bulukumba yang merah. Sehingga jika dibuka, dikuatirkan siswa bisa terpapar Covid-19. Sehingga dinas pendidikan masih tetap membuat aturan bahwa proses belajar mengajar, masih dilaksanakan secara PJJ atau pembelajaran jarak jauh dengan menerapkan dua metode yaitu daring dan luring,” tambah haris.

Baca Juga :   Warga Bantaeng Terima Bantuan Ikan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan

Dirinya berharap kepada guru – guru untuk proaktif mengadaptasi kurikulum, mengembangkan media dan strategi pembelajaran seiring dengan penerapan metode luring guna proses BDR di masa pandemi Covid-19 dapat berjalan baik.

“Kami juga meminta dukungan orang tua untuk bisa mendampingi anak – anaknya saat melakukan BDR. Karena pembelajaran tidak akan berhasil jika hanya diserahkan kepada guru saja. Harus ada kerjasama yang baik antara guru, siswa dan orang tua. Sebab BDR ini merupakan solusi terbaik bagi keselamatan kita semua,” tutupnya.

Pewarta: Ramli | Editor: Redaksi

Pos terkait