Surat Terbuka Untuk MUI Boltim

  • Whatsapp

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Bapak Ketua dan jajaran pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) selalu dalam keadaan sehat wal afiat.

Bacaan Lainnya

MUI Boltim mengeluarkan Himbauan atau Fatwa, nomor: 43 MUI-BMT/3/2020, tentang pelaksanaan ibadah Shalat Berjamaah dan Shalat Jum’at di Masjid dalam Situasi Wabah virus corona atau COVID-19.

Fatwa yang dikeluarkan tanggal 28 Maret 2020 ini, merupakan tindak lanjut dari Himbauan MUI Provinsi Sulawesi Utara Nomor: 42 Tahun 2020 dan setelah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah dalam hal ini Dinas Kesehatan Boltim.

Himbauan yang memuat 7 poin penting inilah yang mendorong berbagai pihak, termasuk saya, mengajukan pertanyaan, kritik dan saran kepada MUI Boltim, terutama, pada poin 3 dan 7 isi himbauan dimaksud.

Pertama, pada poin 3, meminta jamaah menghindari berdempetan dalam pelaksanaan ibadah shalat. Secara syar’i, adakah dalil yang mengatur perkara ini? Setahu kami, salah satu syarat sempurnanya shalat berjamaah adalah merapatkan dan meluruskan shaf. Untuk itu kami memohon penjelasan dan dalil yang menjadi dasar fatwa tata cara shalat berjamaah ini, agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah umat.

Kedua, pada poin 7, masyarakat diimbau untuk tetap berada di rumah sebagai bentuk ketaatan kepada Pemerintah. Poin 7 pada himbauan ini sudah sejalan dengan Intruksi Presiden tentang kerja dari rumah, belajar dari rumah dan ibadah di rumah.

Namun, disinilah kami melihat ambiguitas himbauan MUI Boltim. Sebab pada poin sebelumnya masih menganjurkan shalat jum’at dan shalat berjamaah. Apakah ini tidak bertentangan dengan instruksi yang dimaksud Presiden dan Maklumat Kapolri Nomor: 2 Mak/III/2020, khusunya pada poin ke 2.a nomor 5 tentang kegiatan lainnya yang menjadikan berkumpulnya massa?  Apakah kegiatan shalat jum’at dan berjamaah tidak termasuk pada poin Maklumat Kapolri mengingat  shalat Jum’at dan berjamaah kegiatan yang mengumpulkan massa? Tidakkah ini bertentangan dengan upaya Pemerintah, khususnya Pemerintah Boltim, tentang kebijakan physical distancing dan social distancing?

Baca Juga :   PKS All Out Dukung Paslon SB-RG di Pilbup Boltim

Dengan demikian, sebagai saran, kirannya MUI Boltim mengevaluasi kembali himbauan atau fatwa yang telah dikeluarkan, mengingat puncak penyebaran pandemik Covid-19 akan terjadi pada 1 sampai 2 pekan ke depan.

Tentu dengan memperhatikan: (1) Fatwa Majelis Ulama Dunia dan Himbauan WHO (Badan Kesehatan Dunia) yang menetapkan Covid-19 sebagai Wabah Pandemik Global atau Fatwa Komite Ulama Senior (Haiah Kibarul ‘Ulama) yang menjadi rujukan negara-negara Islam dunia, termasuk Pemerintah Arab Saudi dalam kebijakan menutup Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sementara waktu dalam kegiatan peribadatan.

(2) Memperhatikan Instruksi Presiden dan Maklumat Kapolri tentang bentuk upaya Negara di dalam melindungi warga negara di tengah memawabahnya virus Korona.

(3) Memperhatikan juga himbauan dan pendapat sepuluh tokoh umat Muslim dan pemimpin ormas keagaaman Indonesia, antara lain KH. Aqil Siroj, KH Aa Gim, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Quraish Shihab, dll.

Pemimpin agama, dalam konteks menjaga kemaslahatan umat, semestinya meniru apa yang dilakukan oleh Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Beliau dengan bijaksana tidak memperkenankan shalat berjamaah ketika wabah Covid-19 mulai merebak. Dia menjadi imam masjid pertama di Indonesia yang bersikap demikian.

Semoga jajaran pengurus MUI Boltim menerima kritik dan saran ini demi kemaslahatan umat. Apakah MUI Boltim tahu konsekwensi Himbauan atau fatwa mereka bagi puluhan ribu Muslim di Boltim, yang tunduk dan patuh pada fatwa tersebut? Tahukah MUI Boltim dilema yang timbul akibat fatwanya, antara kepatuhan pada seruan ulama dan was-was terjangkit wabah?

Tentu saja kita semua tidak ingin kejadian seperti di masjid Kebon Jeruk Jakarta, sebagaimana yang diberitakan beberapa media nasional, 3 orang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 dan berujung pada dikarantinanya 200 jamaah. Kita semua berharap itu tidak akan terjadi di daerah ini, dan membayangkan puluhan ribu umat meminta pertanggungjawaban atas fatwa tersebut di akhirat?

Baca Juga :   Kualitas Cengkih Kurang Baik, Begini Tanggapan Kadis Pertanian Boltim

Pengurus MUI Boltim yang terhormat, Islam selalu mengutamakan kemanusiaan di atas peribadatan. Bukankah mencegah jauh lebih baik daripada mengobati? Semoga Bapak Ketua dan jajaran pengurus MUI Boltim senantiasa dalam keadaan sehat, serta selalu diberi hikmah agar bisa saling menguatkan dan mengingatkan untuk kemaslahatan Umat. Semoga kita semua terhindar dari kebinasaan akibat kelalaian dan kekhilafan kita sendiri!

Wallahulmuwafiq ila aqwamithoriq,

Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokaruh.

 

Oleh: Nasrudin Dilapanga

Penulis merupakan aktivis Gerakan Pemuda Ansor Boltim dan aktivis masjid.

 

*tulisan merupakan opini dari penulis, redaksi tidak bertanggung jawab atas isi tulisan opini dari penulis.

Pos terkait