UN Ditiadakan, Berikut Syarat Kelulusan dan Kenaikan Kelas Siswa SD dan SMP di Boltim

  • Whatsapp

Boltim – Pandemi Corona virus disease atau COVID-19 yang sedang terjadi, berdampak pada kegiatan satuan pendidikan. Sistem pendidikan pun berubah sesuai dengan kondisi yang ada, termasuk meniadakan ujian nasional.

Sistem kelulusan SD dan SMP pun menggunakan beberapa kreteria, begitu juga dengan kenaikan kelas untuk kelas I – V dan kelas VII – VIII tidak ada lagi ujian kenaikan kelas (UKK).

Bacaan Lainnya

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Yusri Damopolii S.Pd, M.Pd mengatakan, bahwasanya syarat kelulusan sekolah dasar bisa menggunakan nilai kelas 4,5 dan 6 pada semester 1.

“Kalau untuk ujian nasional SD itu diambil dari nilai raport kelas 4 sampai dengan kelas 6 semester satu. Sementara untuk SMP diambil dari nilai kelas 7 sampai dengan semester 1 kelas 9, nilainya itu dikumpul, lalu di jumlahkan berapa nilai rata-rata itulah nilai Akhir Ujian Nasional,” ucap Yusri Damopolii kepada jurnalis Aksaranews.com baru-baru ini.

Yusri menjelaskan, bahwasanya pengganti UN adalah tetap dilaksanakan Ujian Sekolah. Tapi lagi-lagi ia tidak mewajibkan Ujian Sekolah dalam jaringan (Daring), bisa saja akumulasi nilai semester siswa.

“Sebenarnya UN diganti dengan Ujian Sekolah, tetapi apabila memang tidak memungkinkan untuk dilakukan. Jadi faktor kelulusan bisa dilihat dari nilai lima semester akhir dan diakumulasikan. Jadi bisa saja tidak ada US berbasis online,” kata Yusri.

Namun dirinya mengapresiasi untuk sekolah yang sudah melakukan ujian online baik di sekolah maupun di rumah.

“Saya apresiasikan sangat baik, tapi yang perlu pihak sekolah perhatikan adalah siswa-siswi yang tidak mampu atau tidak memiliki HP Android, tentu mereka tidak terkoneksi kejaringan, dan jalan keluarnya seperti tadi ujian di rumah tanpa Daring,” ucap Yusri.

Baca Juga :   Salurkan Hak Suara di TPS 1 Desa Togid, Sehan Lanjar Nilai Demokrasi Mengalami Degradasi

Lebih lanjut, Dinas pendidikan pun telah memberikan kewenangan penuh kepada pihak sekolah untuk menentukan mana yang lebih efisien menurut mereka karena banyak hal di lapangan yang mungkin saja terjadi hanya karena tidak memiliki gadget untuk terkoneksi daring.

“Tidak semua orang tua memiliki Handpone Android, bagaimana dengan mereka yang susah dan harus kita paksakan untuk melakukan ujian online, nah itu akan menimbulkan masalah. Maka dari pada itu, salah staunya boleh dinilai dengan mengakumulasi nilai,” tandas Yusri Damopolii.

Peliput: Fichi │ Editor: Redaksi

Pos terkait